Jumat, 04 Mei 2018

Kerajaan Islam Cirebon

Setelah berdirinya Pedukuhan ini, Cirebon menjadi ramai dan menjelang Runtuhnya Kerajaan Padjadjaran, Pedukuhan Cirebon menjadi sangat ramai dan merdeka dari Padjadjaran sehingga menjadi Negara dengan istilah Negara Gheng Islam Pakungwati (Atja, 1986 : 28).

Kebesaran Kerajaan Cirebon, dimulai ketika lahirnya seorang anak dari keturunan adiknya Pangeran Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana) dan terwujud (Kertawibawa, 2007 : 139). Menurut beberapa catatan historis sejarah Cirebon, adik dari Pangeran Walangsungsang menikah dengan Sultan Mesir yang bernama Maulana Syarif Abdullah atau Raja Uttara (Kertawibawa, 2007 : 233).

Dari pernikahan tersebut lahirlah dua anak, yang pertama yang nantinya akan membawa kebesaran Islam di Jawa Barat, yaitu Syarif Hidayat. Semasa mudanya ia gemar dan amat menyukai Ilmu Pengetahuan, terutama lagi menyangkut Agama Islam.

Dikirimnya lah oleh ibunya,Nyai Rarasantang ke Mekah untuk berguru Agama Islam kepada Syech Tajuddin Al – Kubri (Atja, 1986 : 33 - 34). Ada perbedaan nama, dalam hal ini wajar menurut penulis. Menurut buku babad Cirebon, nama Syarif Hidayat ditambah Allah sehingga menjadi Syarif Hidayatullah dan gurunya menjadi Syech Tajuddin Al – Kubra (Sulendraningrat, - : 20). 

Setelah Ilmu Pengetahuan dan Agama Islamnya cukup, Syarif Hidayatullah kembali ke Mesir, namun tidak untuk menggantikan tahta  ayahnya, yang menggantikan adalah adiknya, Syarif Nurullah. namun untuk bertolak ke Jawa menemui Pamannya, Pangeran  Walangsungsang. 

Setibanya di Pedukuhan Cirebon, Syarif Hidayatullah disarankan kembali berguru kepada Syech Nurul Jati di Gunung Sembung. Setelah berguru tersebut, atas pertimbangan Pamannya, Syarif Hidayatullah bersedia menggantikan Pamannya untuk memimpin Pedukuhan Cirebon. 

Dizamannya Syarif Hidayatullah datang, Pedukuhan Cirebon sudah sangat ramai dan memperluaskan wilayahnya sampai ke Kejaksan dan Panjunan. Tepat 1479 M, Syarif Hidayatullah diangkat menjadi pengganti Pamannya memimpin Cirebon dan bertekad menghentikan pengiriman upeti kepada Kerajaan induknya yaitu Kerajaan Padjadjaran (Atja, 1986 :  37).

Setelah berhasil lepas, Keraton sebelumnya Pakungwati dipugar dan diperbesar menjadi Keraton Kerajaan Cirebon dan masjid yang didirikan oleh Pamannya sebagai pusat penyebaran Agama Islam, Masjid Pajlagrahan diganti oleh Masjid Agung sang Cipta Rasa. Syarif Hidayatullah mendapat gelar Susuhunan Jati Purba, karena pernah berguru dan menggantikan gurunya Syech Nurul Jati menyebarkan Islam. Dizaman kepemimpinannya hal unik diterapkan. Seperti pembangunan lokasi keraton yang menyerupai Hindu dan disebut Kosmologi Hindu Budha.

Dijelaskan oleh Geidern bahwa kerajaan bercorak Hindu Budha di Asia Tenggara Keratonnya menghadap utara, karena gunung Mahameru di India berada di utara. Dibaratnya terdapat tempat penyebaran agama dan ditimurnya berada pasar dengan di tengah diantara mereka terdapat alun - alun.

Hal serupa diterapkan oleh Susuhunan Jati Purba di Keraton buatannya, dimana lokasi keraton berada di Selatan dengan ditengahnya terdapat alun alun, dibaratnya terdapat Masjid tempat penyebaran agama Islam dan ditimurnya tempat rakyat berjualan.
Selain itu, dibangunnya Tembok dan dinding di sekitar Keraton, lalu parit dan sungai didepannya mengindikasikannya saat itu kelas sosial sudah ada di Keraton Kerajaan Cirebon. Dimana hal tersebut menjadi pemisah antara kehidupan rakyat dan pihak Kerajaan ( Adeng, 1998 : 74 ).

Kelepasannya Kerajaan Islam Cirebon dari Kerajaan Padjadjaran merupakan hal unik, bisa saja Raja Padjadjaran saat itu Prabu Siliwangi menyerang Kerajaan Cirebon dan pasti akan menang. Ada beberapa hal mengapa Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja tidak menyerang Kerajaan baru tersebut.
Patih dari Kerajaan Padjadjaran memberitahu Rajanya Sri Baduga Maharaja bahwa :
1.    Bahwa Syarif Hidayatullah merupakan cucunya sendiri dari anaknya Nyai Rarasantang.
2.    Bahwa Syarif Hidayatullah merupakan menantunya anaknya Walangsungsang.
3.    Bahwa Syarif Hidayatullah diangkat oleh anaknya sendiri Pangeran  Walangsungsang (Iskandar, 2000 : 142).
Akan merasa sakit hati, jikalau Kakeknya sendiri menyerang cucunya, hal itulah yang diingatkan oleh Patihnya Prabu Siliwangi yaitu  Purwagalih ( Iskandar, 2000 : 14).

sumber :
Atja. 1986. Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari. Bandung : Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

Iskandar Yoseph. 2000. Negara Gheng Islam Pakungwati. Bandung : Padepokan Sapta Rengga.

Kertawibawa, Besta Besuki. 2007. Dinasti Raja Petapa I : Pangeran Cakrabuana Sang Perintis Kerajaan Cirebon. Bandung : Kiblat.


Ohorella, G.A. 1998. Kota Dagang Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
 

Sulendraningrat, Sulaiman. 1984. Babad Tanah Sunda – Babad Cirebon. Cirebon : tp.

Sunardjo, Unang. 1983. Kerajaan Cerbon 1479 – 1809. Bandung: Tarsito.
 

Robi Gunawan S.
Mahasiswa Ilmu Sejarah Unpad