Setelah berdirinya Pedukuhan ini, Cirebon menjadi
ramai dan menjelang Runtuhnya Kerajaan Padjadjaran, Pedukuhan Cirebon menjadi
sangat ramai dan merdeka dari Padjadjaran sehingga menjadi Negara dengan
istilah Negara Gheng Islam Pakungwati (Atja, 1986 : 28).
Kebesaran Kerajaan Cirebon, dimulai ketika lahirnya
seorang anak dari keturunan adiknya Pangeran Walangsungsang (Pangeran
Cakrabuana) dan terwujud (Kertawibawa, 2007 : 139). Menurut beberapa catatan
historis sejarah Cirebon, adik dari Pangeran Walangsungsang menikah dengan
Sultan Mesir yang bernama Maulana Syarif Abdullah atau Raja Uttara
(Kertawibawa, 2007 : 233).
Dari pernikahan tersebut lahirlah dua anak, yang
pertama yang nantinya akan membawa kebesaran Islam di Jawa Barat, yaitu Syarif
Hidayat. Semasa mudanya ia gemar dan amat menyukai Ilmu Pengetahuan, terutama
lagi menyangkut Agama Islam.
Dikirimnya lah oleh ibunya,Nyai Rarasantang ke Mekah
untuk berguru Agama Islam kepada Syech Tajuddin Al – Kubri (Atja, 1986 : 33 -
34). Ada perbedaan nama, dalam hal ini wajar menurut penulis. Menurut buku
babad Cirebon, nama Syarif Hidayat ditambah Allah sehingga menjadi Syarif
Hidayatullah dan gurunya menjadi Syech Tajuddin Al – Kubra (Sulendraningrat, -
: 20).
Setelah Ilmu Pengetahuan dan Agama Islamnya cukup,
Syarif Hidayatullah kembali ke Mesir, namun tidak untuk menggantikan
tahta ayahnya, yang menggantikan adalah adiknya, Syarif Nurullah. namun
untuk bertolak ke Jawa menemui Pamannya, Pangeran Walangsungsang.
Setibanya di Pedukuhan Cirebon, Syarif Hidayatullah
disarankan kembali berguru kepada Syech Nurul Jati di Gunung Sembung. Setelah
berguru tersebut, atas pertimbangan Pamannya, Syarif Hidayatullah bersedia
menggantikan Pamannya untuk memimpin Pedukuhan Cirebon.
Dizamannya Syarif Hidayatullah datang, Pedukuhan
Cirebon sudah sangat ramai dan memperluaskan wilayahnya sampai ke Kejaksan dan
Panjunan. Tepat 1479 M, Syarif Hidayatullah diangkat menjadi pengganti Pamannya
memimpin Cirebon dan bertekad menghentikan pengiriman upeti kepada Kerajaan
induknya yaitu Kerajaan Padjadjaran (Atja, 1986 : 37).
Setelah berhasil lepas, Keraton sebelumnya Pakungwati
dipugar dan diperbesar menjadi Keraton Kerajaan Cirebon dan masjid yang didirikan
oleh Pamannya sebagai pusat penyebaran Agama Islam, Masjid Pajlagrahan diganti
oleh Masjid Agung sang Cipta Rasa. Syarif Hidayatullah mendapat gelar Susuhunan
Jati Purba, karena pernah berguru dan menggantikan gurunya Syech Nurul Jati
menyebarkan Islam. Dizaman kepemimpinannya hal unik diterapkan. Seperti
pembangunan lokasi keraton yang menyerupai Hindu dan disebut Kosmologi Hindu
Budha.
Dijelaskan oleh Geidern bahwa kerajaan bercorak Hindu
Budha di Asia Tenggara Keratonnya menghadap utara, karena gunung Mahameru di
India berada di utara. Dibaratnya terdapat tempat penyebaran agama dan
ditimurnya berada pasar dengan di tengah diantara mereka terdapat alun - alun.
Hal serupa diterapkan oleh Susuhunan Jati Purba
di Keraton buatannya, dimana lokasi keraton berada di Selatan dengan
ditengahnya terdapat alun alun, dibaratnya terdapat Masjid tempat penyebaran
agama Islam dan ditimurnya tempat rakyat berjualan.
Selain itu, dibangunnya Tembok dan dinding di sekitar
Keraton, lalu parit dan sungai didepannya mengindikasikannya saat itu kelas
sosial sudah ada di Keraton Kerajaan Cirebon. Dimana hal tersebut menjadi
pemisah antara kehidupan rakyat dan pihak Kerajaan ( Adeng, 1998 : 74 ).
Kelepasannya Kerajaan Islam Cirebon dari Kerajaan
Padjadjaran merupakan hal unik, bisa saja Raja Padjadjaran saat itu Prabu
Siliwangi menyerang Kerajaan Cirebon dan pasti akan menang. Ada beberapa hal
mengapa Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja tidak menyerang Kerajaan baru
tersebut.
Patih dari Kerajaan Padjadjaran memberitahu Rajanya
Sri Baduga Maharaja bahwa :
1. Bahwa Syarif Hidayatullah merupakan
cucunya sendiri dari anaknya Nyai Rarasantang.
2. Bahwa Syarif
Hidayatullah merupakan menantunya anaknya Walangsungsang.
3. Bahwa Syarif
Hidayatullah diangkat oleh anaknya sendiri Pangeran Walangsungsang
(Iskandar, 2000 : 142).
Akan merasa sakit hati, jikalau Kakeknya sendiri
menyerang cucunya, hal itulah yang diingatkan oleh Patihnya Prabu Siliwangi
yaitu Purwagalih ( Iskandar, 2000 : 14).
sumber :
Atja. 1986. Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari.
Bandung : Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
Iskandar Yoseph. 2000. Negara Gheng Islam Pakungwati. Bandung :
Padepokan Sapta Rengga.
Kertawibawa, Besta
Besuki. 2007. Dinasti Raja Petapa I :
Pangeran Cakrabuana Sang Perintis Kerajaan Cirebon. Bandung : Kiblat.
Ohorella, G.A. 1998. Kota Dagang Cirebon sebagai Bandar Jalur
Sutra. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Sulendraningrat,
Sulaiman. 1984. Babad Tanah Sunda – Babad
Cirebon. Cirebon : tp.
Sunardjo, Unang. 1983. Kerajaan Cerbon 1479 – 1809. Bandung:
Tarsito.
Robi Gunawan S.
Mahasiswa Ilmu Sejarah Unpad